Cerita Inspirasi : Separuh Jiwa

   

     

    (Braaaakkk...!" Aku menoleh. Kuhela napasku. Cepat-cepat aku beranjak dari tempat dudukku. Kesal. 

    "Sudah Rosy bilang, kalau mau ke depan, bilang sama Rosy! Rosy bantu! Jangan jalan sendiri, jatuh kan!" ketusku. Aku melangkah mendekati sosok wanita tua yang tengah jatuh dengan posisi terduduk di lantai. Kubantu wanita tua itu duduk di kursi rodanya. Mbah Tin, sosok wanita renta itu memandangku datar, tanpa ekspresi.

    Selalu dan selalu hal itu terjadi. Terjadi di saat rintik hujan mulai jatuh membasahi tanah. Entah kenapa, setiap rintik hujan turun, Mbah Tin selalu ingin berlari ke luar rumah. Ini masih mendingan dibanding beberapa bulan lalu. Tiga bulan lalu, Mbah Tin malah teriak-teriak sambil sesekali memanggi sebuah nama yang tidak terdengar jelas. Setiap kutanyakan kepada Mama apa yang terjadi dengar Mbah Tin, Mama selalu menjawab pertanyaanku dengan senyum. 

    "Tidak usah khawatir, Ros. Pokoknya tugasmu hanya menjaga Mbah Tin supaya tidak terjadi apa- apa," jawab Mama dengan senyum khasnya. Tambah penasaran kan? 

    Sebenarnya wanita tua yang gurat kecantikannya masih terlihat itu tidak terlalu merepotkan. Aku bisa melakukan aktivitasku sambil duduk di dekat kursi rodanya. lyalah, seorang cucu harus sayang kepada neneknya. Eits..., jangan salah, Mbah Tin bukanlah nenekku. Beliau adalah pengasuhku saat aku masih kecil. Kata Mamaku Mbah Tin sudah ikut dengan nenekku sejak Mama masih kecil. 

    Tahu tidak, aku paling benci musim hujan. Bukankarena rumahku kebanjiran atau kehujanan. Bukan. Rumahku nyaman. Ke mana-mana Mama tercintaku mengantarku dengan mobilnya. Masalahnya, setiap musim hujan, aku harus ekstra waspada jadi suster untuk Mbah Tin. Aku harus selalu di sisinya, menemaninya, dan menja- ganya. Apalagi saat hujan mulai jatuh ke bumi, aku harus meningkatkan kewaspadaanku karena Mbah Tin selalu tiba-tiba beranjak dari kursi rodanya. Aku jadi tidak bisa menikmati waktuku dengan si Trissya, boneka Barbie kesayanganku. Andai aku punya saudara, aku pasti bisa berbagi kerepotan ini. Betapa menyenangkan. 

    Hari berganti, saatnya aku bersantai dan menikmati petang hariku dengan menonton acara TV kesukaanku. Kukecilkan volume TV kamarku. Samar-samar kudengar suara rintik hujan turun. 

    "Aduh, kenapa sih harus turun hujan sore- sore begini!" gerutuku sambil melirik acara TV kesayanganku. Kulihat Iqbal, penyanyi favoritku sedang muncul di sebuah acara TV. Entah kenapa aku malas sekali turun ke bawah menemani Mbah Tin. Apalagi harus mematikan TV saat Iqbal tampil. 

    "Ah, beberapa menit lagi saja, toh Mbah Tin juga tidak bakal ke mana-mana," batinku sambil mengeraskan volume TV-ku. 

    "Rosy, Rosy, bangun. Mbah Tin... Mbah Tin, Nak!" kudengar suara pintu kamarku digedor sangat keras. Samar-samar kudengar namaku dipanggil. Tumben keras sekali Mama memanggil namaku. Kulihat jam dinding kamarku. Ya Tuhan, aku tertidur. Kumatikan TV kamarku yang masih menyala. 

    "Ya, Ma. Ada apa, Ma?" jawabku sambil membuka pintu kamarku. Ya Tuhan, kulihat baju mama berdarah. Aku panik. Aku menurut saja ketika mama memintaku ganti baju. Dan kami langsung meluncur menuju rumah sakit. 

    Kulihat di balik kaca ruang ICU di rumah sakit, Mbah Tin tergeletak tak berdaya. Ada selang yang terhubung di hidungnya. Infus tertancap di tangan. Belum lagi perban melingkar di kepalanya. Aku tak tega memandang Mbah Tin dengan keadaan seperti itu. 

    "Semua itu salahku.., salahku!" ucapku lirih. Tak kuasa aku menahan air mata yang menetes. Mama memelukku. Hangat. Andai aku tadi tidak egois dan mau turun menemani Mbah Tin, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini. Aku terisak. Mama membawaku menjauhi ruang ICU rumah sakit tempat Mbah Tin dirawat. 

    "Sudah saatnya kamu mengetahui kenapa Mbah Tin begitu berharga bagi Mama, Nak. Ada banyak alasan kenapa Mama menyuruhmu menjaganya," ucap Mama sambil menyeka air mataku. Lalu cerità mencengangkan itu mengalir dari mulut mamaku sehingga aku paham semua hal yang membuatku penasaran selama ini.

    Setelah Mbah Tin boleh pulang kembali, aku mengajak Mbah Tin menghirup udara segar di halaman rumah. Udara sangat cerah. Aku duduk di dekat kursi roda, menemani sosok wanita renta yang menatapku sambil tersenyum. Senyum yang indah sekali. Aku memeluknya. 

    "Si... si," kudengar sebuah nama terucap. Aku tersenyum. Ternyata nama yang selalu aku dengar tidak jelas dari mulut Mbah Tin itu adalah Sisi. Sisi adalah nama kesayangan Mbah Tin untukku saat aku masih kecil. Aku baru tahu saat Mama menceritakan semua di rumah sakit tempo hari.

    Ternyata selama ini Mbah Tin mengalami trauma berat. Dulu saat umurku 2 tahun, saat hujan deras, aku berjalan tertatih menuju depan rumah. tanpa terpeleset oleh air dan menangis keras. Mbah Te terkejut dan berlari ke depan rumahku. Karena bura buru, beliau terpeleset. Tapi Mbah Tin, dengan susah payah, masih kuat merangkak dan memelukku melindungiku dari hujan yang membasahi tubuhkr Mbah Tin masih kuat pula berteriak memanggil mamaku. Akibat terpeleset itu, Mbah Tin mengalami kelumpuhan dan hanya bisa duduk di kursi roda sampai sekarang. Untung kata Mama, aku cepat diselarnatkan karena petir bisa menyambar tubuhku saat itu. Tak sadar aku terisak. Kupandangi wanita sepengetahuan Mbah Tin. Di halaman rumahku, aku renta itu dengan kasih sayang. Wanita perkasa yang menyelamatkanku. 

    Senja berganti malam. Angin malam yang dingin menusuk kulitku. Kudorong kursi roda Mbah Tin masuk ke dalam rumah. Aku berjanji, aku akan selalu menjaga dan melindungimu Mbah, seperti engkau menjaga dan melindungiku karena separuh jiwamu adalah aku.


Pengarang : Ghinaa Putri Ekaseiya Prasetiyo

Sekolah         : SD Laboratorium Unesa Surabaya


Harian Koran Hanya Mahasiswa Pengangguran

0 Response to "Cerita Inspirasi : Separuh Jiwa"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel