Mengeruk Uang, 2 Pemuda Ini Hanya Jualan Alpukat
Cari Berita

Advertisement

Mengeruk Uang, 2 Pemuda Ini Hanya Jualan Alpukat

Afif Efendi
Sunday, 28 October 2018

HarianKoran.com, Sydney - Pada 2016, sebuah kolom dari media The Australiapernah mengkritik kegemaran anak-anak muda Australia memesan roti yang disajikan dengan alpukat dan telor rebus dengan harga lebih dari Rp200 ribu rupiah.

"Bagaimana anak-anak muda mampu makan ini? Bukankah sebaiknya makan di rumah? Dua puluh dolar selama beberapa kali dalam sepekan sebenarnya bisa untuk menabung beli rumah," tulis kolomnis Bernard Salt dalam tulisan tersebut.

Namun Jackson Boardman (17) dari Negara Bagian Queensland malah menjalani impian anak muda 'hipster' Australia dengan dikelilingi buah alpukat di kebun pertanian milik keluarganya.

"Saya makan alpukat setiap hari sejak saya masih bayi," katanya.

Mengeruk Uang, 2 Pemuda Ini Hanya Jualan Alpukat
Riley dan Jackson berjualan alpukat di sebuah pasar lokal setiap pekan. (ABC Southern Qld: Peter Gunders)

Ketika dia hendak menabung untuk beli mobil pertamanya, peluang itu dia dapatkan dari alpukat.

"Saya mulai menjual alpukat berkualitas kelas dua di pasar lokal," katanya.

"Saya beli dari ayah saya. Ada beberapa alpukat yang kualitasnya tidak cukup bagus untuk supermarket."

Teman sekelasnya, Riley Harm, mulai membantu. Perjalanan mereka ke pasar setiap bulannya pun tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.

"Kami memutuskannya untuk jadi bisnis. Kami daftarkan perusahaannya, melakukan semua dokumen kelengkapan, dan sekarang menjual buah di pasar setiap akhir pekan," kata Jackson.

"Senang rasanya punya uang sendiri di kelas 12 (kelas 3 SMA)," tambahnya.

Keduanya tahu jika alpukat menjadi simbol kesulitan mereka untuk menabung, namun mereka berhasil melawan tren tersebut.

"Kami jelas berada di spektrum lain. Saya tentu tidak menghabiskan semua uang untuk beli alpukat. Saya justru menghasilkan uang darinya," papar Jackson.

Dan menabung untuk sebuah rumah?

"Ya, jualan alpukat akan berkontribusi untuk itu," kata Jackson.

Tapi saat ini keduanya memiliki masalah yang lebih mendesak.

Mengeruk Uang, 2 Pemuda Ini Hanya Jualan Alpukat
Kedua remaja ini memilih habiskan akhir pekan di perkebunan alpukat. 

"Kami berdua membeli mobil, menabung untuk sekolah, berencana ambil jeda selama setahun sebelum kuliah, dan kami berharap uang dari alpukat akan berkontribusi untuk itu," kata Riley.

"Saya kira alpukat jadi kegemaran terbesar saat ini," kata Jackson.

"Industri ini berjalan dengan sangat baik."

Namun tidak semua berjalan mulus saat mereka akan mengembangkan bisnisnya ke perusahaan-perusahaan kecil.

"Kami coba menjualnya ke kafe, tetapi tidak terlalu berhasil. Tapi tentu jadi pelajaran," kata Jackson.

"Saya rasa bisa membantu dengan belajar ekonomi juga. Konsep seperti penawaran dan permintaan sangatlah masuk akal," timpal Riley.

Jadi, apakah pengusaha muda ini memiliki saran untuk rekan-rekan mereka yang sedang kesulitan di kota?

"Beli-lah terus alpukat, nilainya lebih dari rumah," ujar Riley seraya tertawa.

Baca Juga : Kisah Inspiratif Gadis Desa Yatim Piatu, Walau Hidup Sebatangkara Tetap Sabar dan Ikhlas